Long Time Without My Blah
Hell-o dear tumblretta! I got my mood to write things down. Actually, there’s so many things happened. Can I repeat the words “so many things happened” over and over and over again? So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. So many things happened. Ok enough.
You may don’t know that I’ve moved to another town, again. It’s Medan now, the second Indonesia’s metropolitan city. I go to 5 Senior High School everyday including on Saturday. Can you guys imagine that? More than a year I enjoyed my Saturday morning at my room with calmness, quietness, peacefully like heaven BUT NOW? Honesty, I felt uncomfortable with all these changes. Everything became a little more difficult. But I kept saying to myself that I should be grateful and live my life now. And now I’ve been able to overcome them. Everything’s under control yeah!
Not only life, but my hair’s changed too. I’m a little bit regret. Of course I regret that stupid thing I’ve done! I cut it. And now I’ve been trying to keep it up longer and longer untill reach the perfect length. Just for your information, my boyfriend was REALLY MAD at all. He wanted me with my long hair. I’m really sorry about that..
That’s all. I don’t wanna say anything else but I really hope God can save me on the right track. Because I feel really suck now. I feel so many things in me are changing into worse. I hope I can handle this and be myself like I used to. I love myself, I love people around me and don’t wanna them to be a victim when I walk into wrong direction. I hope it’s really not too late. I wanna fix me.
(via bewareofparamore)
(Source: waltzy, via chastelore)
Midnight flow
It’s happening, agaiiinnn. I just feel unnecessary. Just feel like I can’t say a thing frankly and easily , but in the other side I can’t hold it as my own secret. I have to say it out my mouth. Because I’m a discuss-holic, I’m always want a win-win to every pair that arguing, always want everything become so clear. I’m an original whose like the original personality. But I feel it will only make things worse if I say what tightening my feeling and has become the reason why I’ve not slept yet then started writing this.
And you should know I’ve never ever want to be a burden. I can’t and never want to be people who are not required. I want it all transparent. Yes means yes, no means no. And honestly I have an ability to feel the someone’s transparency. Then I’ll immediately resign from a scope as soon as I’m feeling something’s not right cause I’m here. Feeling rejected. Ignored. I’d rather be alone than have to be something like that. Don’t think hard and look other ways. This post is for you, honey. I hope you know that you’re relapse. You’re hiding things. You’re fooling around. You’re feeling uncomfortable. You’re feeling really want to erase me. Say it. By now. Stop hiding before everything becomes suck at all and again, cause it’s becoming.
Maju Tambangku, Sejahtera Rakyatku, Lestari Alamku
Oleh: Cut Putri Helyati Syakura
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah sejak lama identik sebagai penghasil timah. Komoditas tambang berharga ini telah mewarnai ratusan tahun periode kehidupan sosial masyarakat di daerah tersebut. Menurut data dari Commodity Research Unit tahun 2005, kontribusi Bangka Belitung sekitar 90.000 ton dari sekitar 333.900 ton timah dunia. Riwayat Kepulauan Bangka Belitung yang terkenal sebagai penghasil timah ini dimulai pada saat pemerintahan Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo (memerintah pada tahun 1758-1776). Sebelum timah ditemukan, Bangka Belitung dipandang sebelah mata oleh para penguasa. Penambangan timah dimulai pada abad ke 18 ketika orang-orang Tionghoa mulai berdatangan. Karena kandungan bijih timah yang kaya, Bangka Belitung seolah menjadi barang dagangan yang diperebutkan oleh berbagai bangsa. Sebut saja Inggris, Belanda dan Kesultanan Palembang.Pada abad ke 18 itu dipekerjakanlah kuli tambang dari Cina, Siam, Kocin, dan Melayu untuk mengawasi distribusi timah dari parit-parit penambangan hingga sampai ke Kesultanan Palembang Darussalam. Mengingat masih sangat terbatas pemanfaatan teknologi, terutama penggunaan peralatan teknis penggalian pada masa itu maka parit-parit pun digali dengan cara manual. Banyak para kuli tambang yang dipekerjakan dan pada akhirnya banyak sekali diantara mereka yang memutuskan untuk hidup nomaden (berpindah-pindah tempat) sesuai dengan lokasi tempat ia dipekerjakan. Dibangunlah gubuk gubuk kecil oleh pemerintahan guna tempat tinggal pekerja-pekerjanya. Namun saat para kuli diharuskan untuk berpindah lokasi ke penambangan berikutnya dengan jarak yang lebih jauh dan terbilang tidak dapat dijangkau dengan jarak tempuh perhari, maka gubuk para pekerja pun dibangun kembali di sekitar lokasi penambangan. Kemudian masalah lain muncul disaat beberapa orang yang tinggal di permukiman lama tidak ingin ikut berpindah ke lokasi baru. Hal seperti ini kerap dilakukan oleh keluarga baru yang terlahir melalui keluarga penambang timah. Maka dari situlah populasi penduduk terus berkembang dan terbentuklah suatu sistem masyarakat baru. Nama lokasi permukiman seperti ini sering dikenal masyarakat dengan sebutan “kolong” yang 19 diantaranya masih tersisa hingga sekarang, seperti Kolong Kepuh (karena airnya kepuh), Kolong Ijau (karena airnya berwarna hijau), Kolong Bacang I dan Kolong Bacang II, Kolong Sampur, Kolong Bukit Intan, Kolong Tambang 12 (parit 12), Parit 24, Kolong Kelemen atau Kolong Bitun, Kolong Pedindang, Kolong Nangka I dan Kolong Nangka II, Kolong Teluk Bayur, Kolong Bintang, Kolong Pasar Ikan atau Gudang Padi, Kolong Kacang Pedang, Parit 6, Parit 42 (Si Luk), dan Parit Lalang. Pangkalpinang terus berubah dan berkembang dengan pesat seiring dengan perjalanan sejarah dan aktifitas kehidupan masyarakatnya. Sampai pada masa penjajahan Belanda, pertambangan timah di Pulau Bangka dikelola oleh badan usaha pemerintah kolonial “Banka Tin Winning Bedrijf” (BTW). Sedangkan di Belitung dan Singkep dikelola oleh perusahaan swasta Belanda, masing-masing Gemeeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Biliton (GMB) dan NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij (NV SITEM). Setelah kemerdekaan RI, ketiga perusahaan Belanda tersebut dinasionalisasikan antara tahun 1953-1958. Pada tahun 1961 dibentuk Badan Pimpinan Umum Perusahaan Tambang-tambang Timah Negara (BPU PN Tambang Timah) untuk mengkoordinasikan ketiga perusahaan negara tersebut. Pada tahun 1968, ketiga perusahaan negara dan BPU tersebut digabung menjadi satu perusahaan yaitu Perusahaan Negara (PN) Tambang Timah. Dengan adanya penggabungan ini maka muncul pula kecemburuan masyarakat di bidang ekonomi terhadap orang-orang nonpribumi yang dianggap tidak berhak untuk mengambil hasil kekayaan bumi di negeri orang lain tanpa mendatangkan keuntungan bagi pihak pihak terkait. Padahal cadangan timah yang ada kian menipis pula. Tak heran jika kemudian pertambangan timah di Bangka Belitung membawa dampak sosial berupa masalah kemiskinan dan kecemburuan sosial di sekitar wilayah pertambangan. Hal krusial yang memantik masalah itu muncul karena potensi timah yang berlimpah itu belum diatur secara optimal. Sehingga pendapatan berlimpah dari aktivitas penambangan pada akhirnya belum mampu mendukung bagi terwujudnya kemakmuran rakyatnya. Salah satu penyebabnya adalah terjadinya penyelundupan timah yang dilakukan melalui aktivitas penambangan ilegal dan penyelundupan yang tentunya mengurangi pendapatan daerah. Sebagai tindak upaya dari permasalahan ini Pemda Bangka Belitung kemudian menerbitkan Perda No. 6/2001 tentang Pengelolaan Pertambangan Umum, Perda No. 20/2001 tentang Penetapan dan Pengaturan Tatalaksana Perdagangan barang Strategis, Perda No. 21/2001 tentang Pajak Pertambangan Umum dan Mineral Ikutan Lainnya. Semua peraturan ini untuk melegitimasi pembukaan tambang inkonvensional dengan tujuan mengatrol pendapatan daerah yang mandiri. Dewasa ini penambangan timah di Provinsi Bangka Belitung menjadi aktifitas sehari-hari bagi para warga di pesisir pantai. Kegiatan yang dilakukan oleh kapal besar pengeruk timah milik perusahaan negara maupun swasta ini lah yang memacu para nelayan untuk banting setir menjadi penambang timah. Hal itu dilakukan dengan alasan bahwa keuntungan yang didapat lebih besar daripada melaut untuk mencari ikan. Dalam waktu seminggu mereka dapat menghasilkan uang dari Rp 400.000,- hingga Rp. 1.000.000,-. Apabila mereka pergi melaut, keuntungan yang didapat belum tentu mencapai seperempat dari keuntungan menambang timah. Tak hanya itu, para warga yang berada di dataran tinggi maupun rendah tak mau kalah dalam memanfaatkan hasil bumi ini. Karena terbatasnya dana, kemampuan, serta pengetahuan yang dimiliki warga tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan izin penambangan legal, maka penambangan ilegal pun dianggap sah. Mirisnya, penambangan ilegal ini dilakukan warga dalam partai yang cukup besar sehingga untuk jangka kedepan pasti menimbulkan dampak-dampak tertentu pada kelestarian lingkungan. Seperti halnya yang terjadi sekarang. Banyak sekali kolam kolam raksasa yang tercipta akibat penambangan timah ilegal ini. Padahal para peneliti dari Limnologi LIPI menyimpulkan lewat studi pada 40 kolong (danau yang terbentuk dari bekas penambangan timah), mengatakan bahwa air dari kolong-kolong tersebut terkontaminasi jenis logam berat antara lain Ferum (fe), Timbal (pb), dan Arsen (as) yang sudah melebihi ambang batas normal yaitu lebih dari 4 ppm yang tanpa pengolahan terlebih dahulu tidak direkomendasikan untuk diminum karena dapat menyebabkan sejumlah penyakit seperti keracunan, kanker dan penyakit lainnya (G help, 2008). Tidak hanya itu, Departemen Kesehatan Republik Indonesia mengemukakan seiring dengan ditemukannya kasus bayi lahir dengan usus terburai keluar yang marak diberitakan di tahun 2006 adalah contoh dampak buruknya pertambangan timah. Dalam tiga bulan terakhir pada tahun tersebut, enam bayi di Bangka Belitung lahir dalam keadaan usus terburai. Salah satu penyebab kelainan kelahiran itu diduga karena adanya paparan radio aktif yang terkandung dalam limbah pertambangan timah (G help, 2008). Jadi bagaimana tanggapan para warga disekitar lokasi penambangan timah ilegal ini? Yang diharapkan adalah adanya kesadaran warga disekitar lokasi bahwa penambangan timah yang dilakukan secara ilegal jelas melanggar peraturan. Ditambah lagi dengan tidak adanya usaha pengembalian kelestarian lingkungan hidup sehat sebenarnya hanya akan merusak lingkungan sekitar dan membahayakan kesehatan warga. Padahal pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka pertumbuhan penambangan ilegal ini. Secara tidak langsung Perda No. 6/2001 tentang Pengelolaan Pertambangan Umum, Perda No. 20/2001 tentang Penetapan dan Pengaturan Tatalaksana Perdagangan barang Strategis, Perda No. 21/2001 tentang Pajak Pertambangan Umum dan Mineral Ikutan Lainnya, dimana secara tersirat tujuan dari semua peraturan diatas adalah mengupayakan peningkatan kesejahteraan warga. Sehingga dari uraian tersebut dapat ditarik dan ditawarkan bahwa formulasi tujuan kebijakannya adalah “Dengan keterampilan dan pengetahuan yang memadai di bidang pengelolaan pertambangan yang baik dan benar diharapkan dapat terciptanya keserasian hubungan antara pemanfaatan SDA (Sumber Daya Alam) yang tidak dapat diperbaharui lagi dengan lingkungan hidup. Serta dengan sinergisitas di antara kedua faktor tersebut dapat dijadikan faktor pendorong sekaligus penggerak kegiatan perekonomian daerah baik sekarang maupun di masa yang akan datang.” Sistem nilai yang dapat ditawarkan adalah aspek tata kelola penambangan yang berwawasan lingkungan. Oleh karena itu, para penambang harus dipahamkan lewat sosialisasi bahwa tujuan kebijakan tersebut tidak sekedar membebaskan pertambangan rakyat secara membabi buta tetapi lebih pada upaya meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM penambang. Dimana rancangan analisis perumusan tujuan kebijakan preferensinya harus lebih dititik beratkan pada upaya-upaya pemberdayaan. Selanjutnya agar tidak terjadi pertentangan (trade off) dengan tujuan lainnya maka harus dianalisis dan diformulasikan melalui diskusi dari semua pihak yang berkepentingan dengan tujuan kebijakan diatas.Meskipun hingga saat ini belum ditemukan cara paling tepat untuk mengembalikan struktur tanah di area bekas penambangan, tetapi dengan terbentuknya lubang-lubang camui (kolong) dan hamparan pasir tailing (bahan yang tertinggal setelah pemisahan fraksi bernilai bijih besi) di lokasi bekas tersebut setidaknya dapat kita manfaatkan untuk kepentingan yang positif. Tentunya dengan pengolahan terlebih dahulu, keberadaan kolong tersebut dapat digunakan untuk budi daya ikan, buaya, biawak, kolam pemancingan, sumber air baku, dan budi daya vegetasi air seperti kangkung, teratai, serta tumbuhan air lainnya. Sedangkan untuk hamparan pasir tailing dapat ditaman dengan tanaman khas bangka yang adaptatif dan mampu hidup di lahan kritis seperti kayu pahlawan, simpur, kantong semar, dan kayu gelam. Dari lahan bekas tambang timah di atas, untuk lubang-lubang yang menganga harus segera dilakukan dan diupayakan sesuai tipografi awal dan/atau keadaan sekitarnya, di tutup dengan penutup (over burden) dari lokasi penambangan yang baru. Untuk lahan tailing diadakan reklamasi membuat lahan menjadi lebih baik untuk di budidayakan (dengan teknologi pertanian). Adanya reklamasi ini hendaknya diawali dengan pengelolaan top soil yang bertujuan mengatur dan memisahkan lapisan top soil dengan lapisan tanah lainnya. Penutupan oleh vegetasi di lahan terbuka, juga berkaitan erat dengan gastra estitika karena menghilangkan kesan kumuh dan melahirkan keindahan yang enak dipandang, sejuk, dan teduh. Oleh karena itu vegetasi yang diharapkan dapat mempercepat perbaikan lahan antara lain harus memiliki karakteristik, adaptasi, dan ekologis. Untuk mengelola lahan eks tambang timah menjadi kawasan yang hidup dan memiliki nilai estetika dan memberi kontribusi kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat yang hidup di area eks tambang timah segera mungkin di buat Eco-Park Area atau daerah wisata Eks Mining yang mempunyai nilai positif untuk :
- Area bermain, misalnya seperti olahraga air.
- Kawasan perlindungan hewan asli Bangka, seperti pelanduk (kancil), rusa, trenggiling, musang, dan hewan endemik lainnya.
- Area hutan wisata
- Area yang melmbangkan miniatur bagaimana kegiatan penambangan
- Obyek wisata
- Penelitian dan pendidikan
- Nilai ekonomi khusu untuk pemberdayaan masyarakat di sekitar penambangan eks tambang timah.
It’s called Karya Ilmiah Remaja
I got it, 5 besar pemenang Karya Tulis Essai yang diselenggarain PT. Timah. I’m on the second position for this first time writing contest of mine :D Big thank to Allah and especially my daddy, who gave A LOT of inspiration and guidance. Dengan judul essai Maju Tambangku, Sejahtera Rakyatku, Lestari Alamku.
Awalnya gue diinfoin buat milih setidaknya satu ekskul di sekolah baru gue (sekolah baru? ga begitu ya) yang katanya wajib di ikuti para siswa. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya gue ngikutin Karya Ilmiah Remaja, yang kata temen-temen melatih kita untuk gampang menulis dan ujung-ujungnya akan sangat membantu buat penulisan skripsi pas kuliah ntar.
Awalnya sih tuh ekskul bener-bener ga menarik, ga seasik ekskul cheers atau dance, bahkan ga seasik ekskul paduan suara pun. Satu atau dua kali perlombaan karya tulis gue lewatin dengan alasan klasik yang memang fakta pada saat itu, “ga sempet bu, banyak tugas pr dan ulangan.” Dan juga yang paling bikin gue enggan buat nyobanya adalah karna gue ga punya bayangan sama sekali buat mulai nulis. Mau nulis apaan coba. Cuma itu yang ada di pikiran.
Sampai pada akhirnya guru pembimbing kita ngumumin kalau ada perlombaan essai dengan total minimal sebanyak 5 halaman. Dan beliau menambahkan, “malu dong katanya anak KIR tapi lomba essai aja ga ikut.” Jleb, kita pun tertantang untuk ngikutin tuh lomba yang bertema Potret Penambangan Timah.
Awal mula nulis? Sangat, sangat, sangat susah. Bingung banget apa yang mau di tulis. Sampai akhirnya gue minta saran ke ayah dam beliau ngasih banyak banget masukan. Mulailah gue nulis tuh essai. Kalau ga salah gue ngerjain selama dua hari, dari waktu yang di kasih berminggu-minggu. Hihihi maklum lah anak sekolahan banyak tugasnya. Dan pada hari terakhir, yaitu hari pemeriksaan keseluruhan essai, ternyata masih banyak BANGET tulisan yang ga nyambung sehingga kalau di baca bikin pusing. Alhasil, setelah ngerjain tugas-tugas sekolah, gue baru mulai ngerjain essai yang dikumpul keesokan harinya pada jam 10 malam. Daaaaan…selesai pada jam 3 subuh. Bayangin coba gue sampe telat bangun dan ga sekolah. Sungguh terlalu.
Saat itu gue emang ga mikir soal hadiah kalau essai gue tembus ke 5 besar. Gue cuma mikir “ah dari pada dimarahin sama Ibu, mana udah di tantangin pula.” Tapi ternyata, gue baru tau kalau hadiahnya cukup bikin orang tergiur. Untung aja saat ngerjain tuh essai gue gamikirin hal begituan, kalau engga ya essai gue udah ga dikerjain dengan ikhlas dong. Malah takabur takutnya sangking mikirin hadiah. Begonya, saat Sarah Azzahwa smsin pagi-pagi dengan hebohnya kalau kita berdua dapet juara, gue anteng anteng aja. Oh alhamdulillah, bolos sekolah gue tempo hari ga sia sia juga karna kesiangan. Dan waktu temen di sekolah nyeletuk, “cie Cut menang. Bejeti tuh hadiahnya,” barulah gue sadar. Oh iya ya, setiap perlombaan kan pasti ngasih hadiah buat pemenangnya. Kenapa ga kepikir dari awal begooo. Alhamdulillah sih kalau gitu. Malemnya baru sempet check koran. Setelah baca artikelnya dan ngecheck nama gue, ternyata besar hadiahnya juga di cantumin disitu. O-M-G, cuma bisa ngomong omg deh begitu tau hahaha. Kalau penasaran cari aja koran Bangka Pos yang edisi 26 April 2011, cari tau sendiri deh.
Dan ini temen gue yang namanya Sarah Azzahwa itu. Congrats ya buat kita berdua, hope we’ll be better soon!

Saran gue buat temen temen yang tertarik buat nulis, jangan ragu untuk memulai. Pengalaman pribadi nih, sekali nyoba ikut lomba pasti ketagihan buat nulis lagi, lagi, lagi, dan lagi. Belum lagi asiknya saat ngelakuin penelitian sama anak anak KIR lainnya guna mencari data penulisan karya ilmiah. Bener bener deh, kerasa backpacker banget kalau mengingat kita semua cuma anak sekolahan dengan budget yang ga seberapa. Apalagi kalau ke lokasi penelitian yang masih orisinil banget ketradisionalannya atau bahkan bisa terbilang primitive. Bener bener dapet pengalaman baru deh. Travelling sekaligus menambah ilmu!
formspring.me
Ask me anything http://formspring.me/putrincess
Oh Land - Rainbow